Berita Yogyakarta

Bahu-membahu Mahasiswa Bersolidaritas dengan Kaki Lima

Foto : Kevin A. Anandy

Oleh: Retno Puspito Sari

Bacaekon.com-Pengesahan RUU Cipta Kerja pada Senin (05/10) menimbulkan beberapa reaksi dari seluruh elemen masyarakat, baik melalui daring maupun luring. Aksi demonstrasi pun tak ketinggalan dalam melakukan perannya. Aliansi Gerakan Buruh bersama Rakyat (GEBRAK) mengancam melakukan mogok kerja dan aksi pada tanggal 6 dan 7 Oktober, dengan puncaknya pada 8 Oktober. Aksi itu lalu diikuti oleh buruh lintas sektor dan mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia. Merespon hal tersebut, masyarakat Yogyakarta yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) turut andil dalam puncak aksi pada Kamis (08/10) dengan tajuk #JogjaMemanggil. Menurut Lusi selaku Humas ARB saat dihubungi melalui pesan, penggunaan tajuk #JogjaMemanggil sebagai salah satu panggilan kepada masyarakat Yogyakarta. Selain itu juga memiliki keterlibatan serta kedekatan dalam merespon isu ini.

Dilansir melalui akun Instagram @gejayanmemanggil, massa aksi berkumpul mulai pukul 09.00 WIB di Bunderan UGM. Kemudian dilanjutkan dengan long march menuju Gedung DPRD DIY. Pada aksi kali ini menuntut beberapa hal, yaitu Mosi Tidak Percaya: Turunkan Jokowi-Ma’ruf Amin, Cabut UU Cipta Kerja, Bubarkan DPR dan Bangun Dewan Rakyat. 

Lusi yang ditemui saat Konsolidasi dan Teknis Lapangan menyatakan aksi ini sebagai bentuk legitimasi ekspresi kemarahan rakyat yang selalu dibohongi oleh presiden dan pemerintah, serta DPR RI. “Sebetulnya bukan dari tahun lalu, sih, hampir setiap tahun itu selalu saja kebijakan yang ditelurkan tidak ada yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat, bagaimana memakmurkan rakyat, memastikan tidak ada eksploitasi terhadap buruh, petani, termasuk kemudian tidak ada lagi perampasan tanah atau pengalihan lahan,” ungkap Lusi.

Kronologi Aksi

Massa aksi berdatangan terbagi menjadi 3 gelombang. Menurut Ronggo, salah satu warga sekitar Malioboro, gelombang pertama dan kedua masih berjalan dengan aman. Massa aksi melakukan orasi seperti biasa dengan lancar. Pihak perwakilan dari DPRD pun sudah menemui massa aksi. Ronggo mengatakan kemudian datang lagi massa aksi gelombang ketiga dan memaksa masuk ke dalam gedung DPRD. Kericuhan pun terjadi saat massa mulai melemparkan botol air mineral. “Pas yang gelombang ini (ketiga), masuk ke dalam ditahan (polisi) dulu, to. Dari situ mulai nggak boleh masuk. Mereka lempar-lempar, ada yang lempar botol Aqua, nggak lama kemudian itu ada yang ngerusak bagian depan DPRD,” ungkap Ronggo.

Menyikapi massa aksi yang melakukan tindakan melempar botol itu, polisi mulai menembakkan gas air mata pertama sekitar pukul 13.30 WIB. Massa aksi mulai berhamburan menyelamatkan diri. Ketika situasi mulai lengang, massa aksi mulai memberikan perlawanan kembali. Hingga akhirnya polisi berkali-kali menembakkan gas air mata kepada massa aksi.

Sekitar pukul 14.53 WIB terdengar beberapa kali suara kembang api dari dalam komplek DPRD. Tak lama kemudian polisi pun menembakkan gas air mata lagi untuk membubarkan massa. Menurut penglihatan reporter kami, ada gas air mata yang tersangkut di atas bangunan samping gedung DPRD. Massa pun berlarian menyelamatkan diri lagi.

Pukul 15.20 WIB terjadi keributan pada warga sekitar yang berada di Jalan Mataram. Para warga merasa takut dengan keributan yang disebabkan oleh tembakan gas air mata. Maka dari itu para warga menghalau mahasiswa agar tidak masuk ke kompleknya. Tak lama kemudian polisi dengan atribut lengkap dan mobil barakuda terlihat mulai berjalan dari arah selatan Jalan Mataram.

Represi aparat menimbulkan banyak korban luka-luka. “Banyak banget yang direpresi dari ARB. Berupa pemukulan, penendangan, dan pelemparan gas air mata,” ungkap Lusi. Sementara itu dalam rilis ARB pada Jumat (09/10) disebutkan per Kamis (08/10) pukul 18.00 WIB ada 20 orang yang ditahan dan dua orang tidak sadarkan diri.

Kegiatan ekonomi di sekitar Malioboro selama demonstrasi

Sejak pagi hari Pedagang di sekitar Malioboro telah mengetahui akan diadakan aksi. Namun tidak mengira akan terjadi kericuhan. Yanto, penjual minuman di depan Hotel Mutiara, “saya kira cuma demo biasa, cuma sempat denger ada demo di Jogja tetapi ya cuma demo-demo biasa. Kan biasa ada demo juga biasa biasa saja.” Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Yani, “pagi sama hari rabu itu udah denger kalau bakalan ada demo agak besar tetapi saya pikir demo biasa.”

Sekitar pukul 13.48 WIB beberapa lapak kaki lima dan toko terlihat mulai mengemasi dagangannya. Penutupan lapak dagangan murni inisiatif dari masing-masing pedagang dikarenakan adanya rasa takut. “Saya mulai tutup waktu salat dzuhur denger ada orang teriak rusuh. Saya lepas rukuh langsung lari ngemasin dagangan karena dagangan saya banyak,” ungkap Yani. Pada saat aksi berjalan tidak kondusif para massa aksi membantu para pelaku UMKM di sekitar Malioboro untuk mengamankan barang-barangnya.

Menurut data milik reporter LPM Philosofis, mahasiswa turut mengamankan lokasi kejadian, utamanya mengamankan barang dagangan yang ada di sekitar tempat kericuhan. Mereka saling mendorong dan mengangkat gerobak. Selain itu juga membantu menutup toko di pinggiran Jalan Malioboro. “Ada mahasiswa yang bantu lempar ini (gas air mata) ke tengah biar nggak kena (motor),” ujar Jihar, salah satu pedagang kaki lima di Malioboro. Mahasiswa juga membantu menjaga keselamatan para pedagang. “Saya langsung diselamatkan, dibawa masuk ke dalam toko sama teman-teman mahasiswa. Saya tadi dibantu pake oksigen,” ujar Ramelan.

Aksi Tolak RUU Cipta Kerja memang mempengaruhi pendapatan para pedagang kaki lima, tetapi hal itu bukanlah suatu masalah yang berarti mengingat urgensi yang diangkat juga mewakili suara mereka. “Alhamdulillah kalau cuma sehari kemarin cukup berkurang sedikit. Waktu mau tutup juga masih laku, mahasiswa banyak yang beli disini,” ungkap Yanto.

Para penjual di sekitar Malioboro pun memberikan dukungan terhadap aksi ini. “Setuju, malah bagus. Aspirasi masyarakat dapat disampaikan sama mahasiswa-mahasiswa,” tutur Yanto. Ani, seorang penjual batik, pun menyetujui.  “Itu kan buat kitalah ibaratnya membela rakyat kecil juga. Soalnya saya di sini juga kan cuman kerja, yo gaji juga pas-pasan,” kata Ani. Sehari setelah aksi Jogja Memanggil, terlihat toko-toko dan lapak kaki lima di sisi utara Gedung DPRD masih tutup. Beberapa lapak kaki lima baru membuka pada sore harinya. Sedangkan pada sisi selatan telah berjualan seperti hari biasa.

Reporter: Bella, Retno, dan Taufan

Editor: Ikrar Aruming Wilujeng

78 Total Views 2 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *