BAHAYA WABAH STEREOTIP

BAHAYA WABAH STEREOTIP

(Sumber foto: http://sisilkautsar.blogspot.co.id/)

Oleh: Phalini Herman

Bacaekon.com-Opini. Ini kali pertama saya menginjakan kaki di kota ini, bukan dengan tujuan berwisata, menjajah kuliner atau bahkan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah. Di Kota Pelajar ini saya datang pertama kalinya untuk mengecap dunia pendidikan. Tak pernah sedikitpun punya impian atau sekedar khayalan untuk datang ke sini malahan saya berada di sini dengan perasaan terpaksa karena gagal mencapai kampus idaman saya. Dengan perasaan yang masih gondok karena harus terdampar di sini saya bergumam, komat-kamit gak jelas, dongkol dengan cuaca di sini dengan mas-mas yang menggoda saya saat saya sedang berjalan kaki. “Ah, kota macam apa ini! Orang-orangnya pada genit, tidak menghormati kaum wanita,” keluh saya dalam hati.

Sejalan dengan kegondokan saya, alam seakan berkonspirasi dengan hati dan pikiran, belum setahun berada di kota pluralisme ini sudah banyak saja kejadian menjengkelkan yang saya alami. Entah si Pace yang memandang sinis saat saya mengenakan mukena ketika hendak ke masjid lah, entah sudah berapa banyak mas-mas jawa ganjen yang menggoda saya, entah karena teriknya matahari di sini dan tanpa sadar saya telah mengutuk kota yang tak berdosa ini. Kota dan seisinya.

Kota yang sarat akan keberagamannya ini disesaki dengan orang-orang yang berasal dari sabang sampai merauke dengan budaya yang berbeda-beda. Mereka bersatu di Kota Gudeg. Tak jarang mereka membawa kebiasaan-kebiasaan di daerahnya ke Kota ini. Katanya, orang Jawa itu ramah-ramah, katanya orang Sumatera itu keras, katanya orang Papua itu sak penak e dewe. Semua katanya yang berlandaskan katanya itu ternyata masuk ke pikiran dan tertanam di benak masyarakat hari ini.

Pernah sekali waktu saya makan di suatu rumah makan. Saya yang tengah lahap dikagetkan dengan sapaan dari seorang gadis nan lembut suaranya. “Embak…..” panggilnya. Saat saya melihat ke belakang, o’ow saya terkejut karena gadis itu seorang anak kecil dari Timur. Singkatnya kami mengobrol banyak tentang dunia anak-anak sampai dia pamit untuk bergabung kembali dengan orang tuanya. Sejenak setelah ditinggal pergi, saya berpikir “Hm, ternyata tidak semua orang Timur seperti yang dikatakan kebanyakan orang.” Seperti mendapatkan ilham saya teringat akan kata-kata Opa Pram bahwa seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Mungkin ini adalah sebuah hidayah yang diberikan Tuhan kepada saya karena ketika saya menengok ke belakang lagi, ternyata saya adalah salah satu oknum penyebar virus stereotip. Stereotip adalah konsepsi mengenai sesuatu berdasarkan prasangka yang subyektif dan tidak tepat. Ya, tidak tepat. Ketika saya kesal dengan mas-mas Jawa lalu saya bercerita dengan teman-teman dan saya juga menginginkan mereka ikut mengiyakan pandangan subyektif saya. Benar saja mereka ikut-ikutan menjudge bahwa mas-mas Jawa adalah orang yang ganjen. Ckck sungguh pelajar yang tidak adil. Sampai beberapa waktu yang lalu tidak terpikirkan bagi saya, apa dampak yang terjadi pada kaum yang terkena stereotip, saya rasa hidup mereka akan biasa-biasa saja. Makan tiga kali sehari, bercengkerama dengan teman-temannya dan lain sebagainya.

Namun realitanya adalah citra mereka menjadi buruk. Tak jarang mereka tersendat ketika berjalan, dikucilkan ketika hendak hidup bersosial, ditakuti karena prasangka yang melekat pada diri mereka. Dan kisah hari ini, saat senja memanjakan pelupuk mata, saya berbincang dengan ibu kontrakan saya, beliau berkata “Kenapa waktu itu saya tanya mbak asalnya dari mana dulu soalnya sebelumnya ada yang nanyain kontrakan ini juga pas saya tanya dia asalnya mana, ternyata dia dari Papua langsung saja saya bilang kalau kontrakannya itu harganya mahal sekali biar dia gak jadi ngontrak.

Soalnya orang Papua terkenal kalau mereka suka mabuk-mabukkan, orang gak baik gitu deh mbak. Terus si mbak Papua nya itu bilang kalau seberapapun mahalnya dia tetap mau tapi tetep aja ya mbak, saya bersilat lidah, banyak deh alasan saya biar si mbak Papua itu gak jadi ngontrak sampe akhirnya dia ngomong gini mbak, Bu, saya beda dengan teman-teman saya, saya gak seperti yang diomongin kebanyakan orang.” Mendengar cerita si ibu kontrakan, saya hanya manggut-maggut. Miris melihat persoalan hari ini. Dalam hati saya bersedih,  bagaimana ya nasib mbak papua itu sekarang?

894 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *