BAHAYA KECANDUAN GADGET

BAHAYA KECANDUAN GADGET

(Sumber foto: http://ichalmighty.blogspot.co.id/)

Oleh: Immellita Budiarti

Bacaekon.com-Opini. Di era modern saat ini, perkembangan teknologi benar-benar tak terelakkan. Alat-alat canggih diciptakan, teknologi yang sudah ada diperbaharui dan berbagai layanan ditawarkan untuk kemudahan hidup manusia. Kecanggihan teknologi di masa sekarang memang sangat banyak membantu pekerjaan manusia. Namun, dibalik semua kemudahan itu, kecanggihan teknologi memberikan beberapa dampak buruk, baik bagi generasi muda, maupun generasi anak- anak.

Kecanggihan teknologi  ternyata melahirkan sikap individualis yang tinggi, juga minim simpati. Anak- anak tak lagi main bersama. Mereka sibuk dengan gadget masing-masing, tak peduli dengan lingkungan sekitar. Layaknya  generasi acuh tak acuh,  yang mempunyai banyak teman di media sosial  namun tidak di dunia nyata, yang sibuk menghadap gadget di manapun berada dan dalam situasi apapun. Mirisnya, gadget pun bahkan sering terlihat meskipun dalam acara keluarga, rapat, atau bahkan sekedar berkumpul bersama teman. Kecanggihan teknologi mulai benar-benar  menjauhkan sesuatu yang dekat. Lebih miris lagi, seperti yang dilansir oleh sebuah media online  milik Amerika, www.huffingtonpost.com bahwa korban kecelakaan akibat selfie lebih banyak ketimbang serangan hiu. Itu terjadi akibat perkembangan gadget yang semakin hari semakin canggih namun berpotensi membunuh orang lebih banyak.

Sungguh beruntung bagi mereka yang dilahirkan sebelum teknologi berkembang terlalu jauh dan merenggut masa kecil bahagia mereka. Indonesia memiliki banyak budaya, salah satunya permainan tradisional. Sebelum kecanggihan teknologi berkembang, anak- anak kecil bermain di luar rumah, berkumpul bersama anak- anak seusia mereka, memainkan entah apa saja yang bisa mereka mainkan, walau hanya dengan peralatan seadanya. Anak-anak generasi saat ini tak akan menemukan serunya bermain petak umpet, benteng, egrang, kelereng, lompat tali, ular naga, engklek, congklak, bekel, gasing, tamagochi dan masih banyak mainan murah namun sangat seru apabila bisa dimainkan bersama teman-teman. Permainan-permainan seperti itu kadangkala memupuk rasa  kerja sama, tanggung jawab, silaturahmi, kebersamaan yang tentunya sulit ditemukan pada era saat ini.

Pergeseran budaya berdampak buruk pun mulai banyak terjadi seiring perkembangan zaman. Naluri manusia yang merasa ingin diakui di lingkungan hidupnya sehingga menjadikan media sosial sebagai salah satu upaya eksistensi diri. Ada banyak media sosial yang bermunculan, semakin hari semakin banyak, memunculkan beberapa perubahan sikap  pada  kebiasaan orang-orang.  Apa yang orang- orang kini lakukan di era digital? Mengeksiskan diri di berbagai media sosial. Sibuk dengan gadget, bahkan sampai lupa tujuan awalnya. Liburan pun ikut bergeser dari definisi aslinya. Definisi liburan adalah meluangkan waktu pergi ke suatu tempat untuk mengurangi penatnya pikiran, me-refresh-kan otak agar tidak terlalu stres.  Lalu apa definisi liburan masa kini? Pergi ke suatu tempat untuk bisa update di berbagai media sosial. Sungguh benar-benar tidak menikmati hakikat liburan. Penggunaan gadget atau media sosial berlebihan terutama untuk eksistensi diri di media sosial juga kadang melahirkan oknum-oknum tak bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. Tak sedikit mendengar kerusakan lingkungan yang disebabkan oknum tak bertangung jawab. Sebagai contoh, banyaknya sampah yang ditemukan di puncak suatu gunung atau kebakaran hutan karena kelalaian pendaki yang ingin eksis di media sosial atau yang baru saja terjadi adalah rusaknya kebun bunga amaryllis di daerah patuk, gunungkidul akibat banyaknya pengunjung yang hanya ingin mencari spot foto bagus sehingga mengupayakan segala cara seperti tiduran atau menduduki bunga bunga amaryllis tersebut.

Perkembangan teknologi memang baik untuk kehidupan manusia, namun seharusnya memang dimanfaatkan sewajarnya, sehingga tidak menimbulkan ketergantungan terhadap kecanggihan teknologi. Maka, dampak- dampak buruk terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap lingkungan sosial bisa diminimalisir seminimal mungkin.

1288 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *