BADIUZZAMAN SAID NURSI, PENGOBAR API TAUHID TURKI

BADIUZZAMAN SAID NURSI, PENGOBAR API TAUHID TURKI

(Sumber Foto: referensibukubagus.wordpress.com)

Oleh: Anita Surya Mulyanti

Judul Buku      : Api Tauhid, Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid

Penulis             : Habiburrahman El-Shirazy

Pernerbit          : Republika

Cetakan           : XII, April 2016

Jenis Buku       : Novel Fiksi/Sejarah-Islam

Tebal Buku      : 573 Halaman

ISBN               : 978-602-8997-95-9

Bacaekon.con-Rekomendasi. Habiburrahman memulai novelnya dengan menceritakan seorang pemuda asal Lumajang, Jawa Timur bernama Fahmi, yang sedang menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Madinah. Ketika pulang kampung untuk berlibur, ia dihadapkan kepada dua pilihan yang cukup berat untuk memilih calon pendamping hidupnya. Nuzula anak kiai Arsenal pemilik pondok pesantren atau Nurjannah anak kepala desa. Nuzula bagaikan matahari dan Nurjannah bagaikan bulan jika dilihat dari nasabnya. Sementara keluarganya memilih matahari yang sinarnya mengalahkan bulan. Namun ada satu pertanyaan pada diri Fahmi, “Bagaimana jika kenyataannya Nurjannahlah mataharinya dan Nuzula adalah bulan?”.

Belum lama setelah menikah, Fahmi mendapat masalah rumah tangga yang cukup berat, padahal ia belum sempat tinggal bersama. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan beri’tikaf selama 40 hari untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur’annya sebanyak 40 kali. Namun baru beberapa hari ia sudah kelelahan dan jatuh pingsan. Teman-teman dekatnya seperti Hamzah, Ali, dan Subki heran melihat Fahmi dan tidak mengerti apa yang sedang dihadapi oleh sahabatnya. Setelah Fahmi tersadar dari pingsannya dan menceritakan masalahnya, Hamza mengajak Fahmi berlibur di kampung halaman Hamza yaitu Turki.

Hamza sudah mengatur jadwal berlibur selama di Turki. Selama perjalanan, Hamza menceritakan tentang sosok ulama besar yang berasal dari desa Nurs bernama Said Nursi. Ibunya yang bernama Nuriye sudah merasakan bahwa Said Nursi berbeda dari anak-anaknya yang lain. Dia cerdas, kritis dan cepat mengerti. Pada saat usianya masih kanak-kanak ia ingin merantau bersama kakaknya untuk mencari ilmu. Pada usia 15 tahun Said Nursi sudah bisa menghafal 80 kitab. Bukan hanya menghafalnya, ia mampu memahami dengan sangat cermat. Karena kemampuannya itu, Said Nursi dijuluki Badiuzzaman (Keajaiban Zaman) oleh salah satu gurunya yaitu Muhammed Emin Efendi. Kemampuannya untuk menguasai berbagai kitab ini tentunya membuat iri para saudara dan temannya. Banyak yang tidak percaya atas kemampuannya dan mengajak untuk berdebat. Semakin banyak yang mengajaknya berdebat baik mengenai agama maupun ilmu umum. Sehingga ia terus belajar, membaca, menghafalkan, menelaah, dan memahami buku-buku tentang sains, kedokteran, dan ilmu umum lainnya. Ia juga sempat membimbing Mustafa Pasya untuk kembali ke jalan Allah. Sampai pada akhirnya banyak yang kagum dan ingin menjadi muridnya.

Pada masa runtuhnya khalifah Usmaniyah, kebudayaan Islam akan dihilangkan oleh para generasi muda Turki yang sudah banyak menganut budaya  Eropa. Hal itu semakin terasa setelah Perang Dunia I terjadi. Muncullah larangan untuk mengumandangkan azan menggunakan bahasa Arab, Madrasah yang mengajarkan ajaran Islam ditutup dan diganti dengan pelajaran umum. Penderitaan umat Muslim dimulai, begitu pula dengan Said Nursi. Selama bertahun-tahun ia dipenjara, difitnah dengan tuduhan yang tidak ada bukti. Berpindah dari penjara satu ke penjara lain, diasingkan diberbagai daerah bahkan tempat terpencil yang sangat susah dijangkau oleh orang lain. Namun ia tidak mau generasi selanjutnya menderita tanpa cahaya Islam. Upaya pemerintah untuk meredupkan Islam di Turki dilawan oleh Badiuzzaman Said Nursi dengan tulisannya yang diberi judul Risalah-Nuur. Selama dipenjara ia berusaha untuk tetap menulis dan memberikannya kepada para muridnya, agar api tauhid terus membara di masyarakat Turki.

Setelah napaktilas sejarah Said Nursi dan belum selesai masalah Fahmi dengan istrinya, sudah ada dua perempuan yang menyatakan perasaannya. Aysel sepupu Hamza yang sudah lama tinggal di Eropa dan telah membuat Fahmi terbaring tak berdaya di atas ranjang Rumah Sakit. Juga adik kandung Hamza, Emel seorang muslimah yang solehah dan juga seorang hafidzoh. Ia meminta Fahmi menikahinya dengan  mahar mengamputasi sebelah kaki yang dengan tegas ditolak oleh Fahmi karena mahar seperti itu belum tentu dibolehkan oleh syariat.

Akan berakhir seperti apakah kisah cinta Fahmi? Bagaimanakah perjuangan Said Nursi dalam mengobarkan Api Tauhid yang berusaha dipadamkan oleh pemuka Turki? Semua disajikan dalam novel ini dengan sangat mengesankan dan detail, terutama mengenai sejarah ulama besar Turki, Badiuzzaman Said Nursi.

Tidak hanya mengisahkan tentang roman dan cerita sejarah. Habiburrahman secara tidak langsung memberikan informasi mengenai tempat bersejarah yang layak dikunjungi saat kita berada di Turki. Begitu pula dengan berbagai kuliner khas Turki yang harus dicicipi saat berkunjung ke sana. Memberikan deskripsi yang detail sehingga pembaca bisa terbawa suasana seperti berada pada tempat dan masa itu.

 

595 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *