APA KABAR MEA 2016?

APA KABAR MEA 2016?

(Foto : isigood.com)

Oleh: Fenny Fithri Ramadhani

BACAEKON.COM-EKONOMI. Hampir satu tahun berlalu resmi dimulai pada 31 Desember 2015 berdasarkan kesepakatan yang dilakukan oleh 10 negara anggota ASEAN pada tahun 2007 di mana akan menciptakan pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui apa itu MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau AEC (Asean Economic Community). Peneliti Ekonomi bidang Ekonomi Internasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pangky Tri Febiyansyah, mengungkapkan bahwa melalui penelitian 30% masyarakat tanah air belum paham arti MEA. (sumber : http://bandiklat.babelprov.go.id/2016/03/28/meniru-budaya-kerja-negeri-sakura-untuk-menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea)

 Sementara itu, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widyastuti juga mengungkapkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Survei ASEAN LIPI dari 2.600 responden di 15 kota di Indonesia, hanya 25,90 persen saja yang paham tentang MEA. Sementara dari kalangan pengusaha dan pedagang, hanya 27,80 persen saja yang mengerti MEA. “Ini sebenarnya sangat miris sekali. Negara-negara ASEAN lainnya sudah banyak mempersiapkan untuk MEA, sementara Indonesia masih banyak yang belum tahu. Akibatnya, MEA ini seolah menjadi ancaman bagi warga Indonesia karena pesimis bisa bersaing dengan negara Asean lainnya,” ungkap Niken, saat menjadi pembicara dalam Forum Dialog Bertema “Memanfaatkan Peluang Dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia” di Hotel Grand Zuri, Palembang, Selasa (29/3). (sumber, http://lamongankab.go.id/tikung/2016/05/23/masih-banyak-masyarakat-indonesia-belum-paham-mea.html)

Sumber Daya Manusia (SDM) sendiri menjadi senjata utama dalam menghadapi MEA misalnya dari segi ketenagakerjaan. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah angkatan kerja saat ini mencapai 128,8 juta orang. Lewat catatan, 114 juta merupakan orang bekerja, dan sisanya 6,18 persen merupakan pengangguran. Direktur Standarisasi dan Kompetensi Kemenaker Suhadi mengatakan, melihat angka angkatan kerja tersebut agak sulit tenaga kerja bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal ini tentu menjadi tantangan bagi semua dalam menghadapi persaingan di pasar bebas Asean tersebut. “Dari data tersebut 71,3 juta lulusan SD dan SMP. Lulusan pendidikan tingginya 12 juta orang. Tentu jika diukur dari tingkat pendidikan maka sangat berat untuk menghadapi MEA,” ujarnya di Kawasan Mega Kuningan Jakarta, Kamis (12/10/2016). Untuk membuat SDM berdaya saing, Suhadi mengaku Kemenaker sudah mempersiapkan beberapa langkah jitunya. Diantaranya, percepatan kompetensi, sertifikasi kompetensi, dan pengendalian tenaga kerja asing. (sumber:http://economy.okezone.com/read/2016/10/13/320/1513593/tingkat-pendidikan-rendah-kemenaker-sangat-berat-hadapi-mea)

Untuk menghadapi MEA, tentunya banyak hal yang perlu disiapkan agar Indonesia mampu bersaing di kawasan ASEAN terutama dalam persaingan usaha. Salah satu strategi yang dilakukan Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam menghadapi MEA yaitu dengan meluncurkan Jogja Incoporated. Terpinggirnya pengusaha lokal dalam berbagai kegiatan pembangunan ekonomi di Yogyakarta menjadi alasan Sri Sultan meluncurkan Jogja Incoporated pada akhir pekan Oktober 2016. Sri Sultan memaparkan pendapatnya, “Jogja Incorporated dalam strateginya akan mendorong multisinergi sektor pemerintah, dengan korporasi dalam pelibatan pembangunan ekonomi yang terintegrasi dengan dukungan modal yang murah dari perbankan.”  Sementara itu Ketua Badan Pembina Jogja Incorporated, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi mengatakan Jogja Incorporated merupakan kerja sama antara pihaknya dengan BUMD DIY dalam pembangunan infrastruktur, konstruksi maupun keuangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dia menambahkan gerakan ini juga untuk mendorong pelaku usaha DIY untuk bersama-sama menggalang investasi yang kuat, membangun usaha yang bisa berkompetisi dengan pelaku usaha nasional/internasional. (sumber: http://ekbis.sindonews.com/read/1151348/34/dorong-pengusaha-lokal-sri-sultan-luncurkan-jogja-incoporated-1477819980 pada Minggu, 30 Oktober 2016).

Indonesia sendiri dinilai harus lebih siap hadapi perdagangan bebas. Dari segi impor dan ekspor, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati menuturkan, hingga saat ini impor pangan terus meningkat. Namun pada sisi lain ekspor bahan komoditas yang menjadi andalan Indonesia mengalami penurunan. “Impor pangan yang naik luar biasa, sementara problem kita, pasar global kita ada yang namanya tekanan harga komoditas. Semua harga komoditas turun. Artinya dengan harga yang turun saja nilainya naik. Dari sisi volume kenaikan jauh lebih besar. Apabila ekspor dan impor ini tidak diawasi secara lebih ketat oleh pemerintah, maka dikhawatirkan bahwa Indonesia tak dapat bersaing dalam arus perdagangan bebas. Untuk itu, sebagai bahan evaluasi, pemerintah perlu mengendalikan ekspor dan impor sebelum memasuki era persaingan pasar besar yang lebih luas,” tuturnya saat ditemui di Kantor Indef, Jakarta, Kamis (20/10/2016). (sumber, http://economy.okezone.com/read/2016/10/20/320/1520334/indonesia-harus-lebih-siap-hadapi-perdagangan-bebas)

11492 Total Views 2 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *