Ekspresi

Analekta Kisah Sedih Orang Miskin

Ilustrasi : Tinezia Hairunisya

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Bacaekon.com-Aku Lastri, Sulastri Rukiyem, sudah terlihat seperti emak-emak di pedesaan Jawa yang miskin, kan? Nampaknya aku dilahirkan untuk menjadi miskin. Seperti apapun aku bekerja keras aku akan tetap miskin. Saking miskinnya, di umur yang berkepala 5 ini, aku tak pernah sekalipun merasa tenang perihal besok mau makan apa. Hari-hariku terus dibingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kerap bersarang di pikiran orang miskin. Sumpah. Tak pernah sekalipun aku lega perkara kehidupan esok hari. Aku dimiskinkan oleh segalanya.

Keluargaku yang lainnya pun sama, sama-sama miskin. Jika ditelusuri, mungkin buyut-buyutku juga sama miskinnya. Jika dikatakan aku tak bekerja keras, itu tidak sepenuhnya benar. Haqul yakin kalian pasti tidak pernah merasakan bekerja sekeras aku. Aku telah bekerja keras. Sekeras apapun yang tidak pernah kau bayangkan. Racun dan jelaga telah menjadi kudapanku tiap hari. Dari pagi kumembuka mata, hingga ingin istirahat memejamkan mata, aku selalu bekerja keras. Itupun waktu tidurku sangat sedikit. Tak sebanding dengan capeknya tubuh yang kutempa tiap hari.

Kata orang, orang yang miskin itu asalnya dari mental; mental miskin. Ah, tidak juga. Mau aku jungkir balik seperti apapun, aku akan tetap miskin. Seperti yang kubilang, aku telah dimiskinkan oleh segalanya. Kemiskinan itu sepertinya menular, sudah turun temurun dari buyut-buyutku. Bebuyutanku juga tidak ada yang tamat Sekolah Dasar, akupun juga, hahaha. Percuma saja aku sekolah, tidak bisa menghasilkan beras. 6 tahun yang terbuang sia-sia. Lebih baik aku bekerja saja. Ikut emak nandur di sawah. Pekerjaan ini prinsipnya sederhana; aku bertani bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar besok tetap ada sesuatu yang dapat dimakan. 

Tetapi lama-kelamaan prinsip itu hanya bualan belaka. Aku menikah di usia belasan tahun yang masih sangat belia. Suamiku miskin. Tetapi ia sudah bekerja sangat keras. Ia jadi buruh tani yang tiap hari merawat sawah milik orang lain. Dibayar dengan seenak jidat pemilik sawah. Sumpah, bayaran itu tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dikerjakannya. Lengkap sudah, prinsip itu hanyalah utopis. Mungkin di masa-masa lampau ketika manusia masih punya rasa memiliki sesama manusia lain, ketika sawah masih terhampar ramah untuk siapapun, prinsip ini dapat dijadikan tiang hidup bagi orang-orang miskin sepertiku.

Aku juga tidak jauh dari standar-standar perempuan yang ditetapkan oleh lingkunganku sendiri. Percuma perempuan sekolah, toh nanti akhirnya juga di rumah saja. Masak, manak, dan macak. Kuimani dengan khidmat standar ini. Aku menjadi istri yang berbakti kepada suami. Aku pandai memasak. Aku pun juga pandai membuat anak, terbukti aku telah melahirkan 5 orang anak. Tetapi nampaknya aku tidak pandai macak, sebab untuk macak itu perlu modal yang tidak sedikit. Uang yang diberikan oleh suami tidak akan cukup untuk membeli seperangkat alat bedak untuk merawat diri.

Bertahun-tahun menikah aku juga tetap saja tidak lepas dari belenggu kemiskinan. Akhirnya aku terpaksa ikut bekerja menjadi Asisten Rumah Tangga (ART). Pekerjaan ini kupilih karena memang hanya itu yang bisa kukerjakan. Keluarga menuntutku cakap dalam mengerjakan pekerjaan rumahan. Jadi, hanya ini kemampuan yang aku punya. Aku juga tidak punya ijazah sekolah –karena SD saja aku tak tamat. Menjadi ART tidaklah sulit. Aku hanya perlu memasak tiap pagi, mencuci dengan mesin, lalu membersihkan rumah yang tidak seberapa luas. Rupanya aku sedang melayani orang yang malas bekerja. Hih, pekerjaan seperti ini saja tidak bisa dikerjakannya sendiri. Tapi tak apa, kemalasannya adalah sumber penghasilanku.

Namun penghasilanku menjadi ART tetap tidak bisa mendongkrak ekonomi keluarga. Seiring dengan bertambahnya penghasilan, harga-harga di pasar juga semakin naik dengan cepat. Mampuslah aku dikoyak-koyak pasar. Semakin mampus juga ketika lahan sawah semakin mengerdil dan garapan suamiku juga ikut mengecil. Sejak saat itu aku akrab dengan lelaki yang bernama mindring. Ia lelaki utusan bank titil yang siap memberiku uang dengan cepat ketika aku membutuhkan. Tetapi alamaaakkkk bunga pinjamannya besar sekali. Habislah aku terjebak dalam relasi yang tidak sehat. Duit yang kupinjam habis dalam sekejap, namun bunganya beranak pinak sampai 7 turunan.

Saat itu pemerintah memberikan jalan keluar ini melalui program transmigrasi. Berangkatlah aku, suami, dan kelima krucil ke Kalimantan. Tetapi keadaan justru semakin payah. Kami tak diterima di sana. Justru kami dimusuhi dengan keluarga sendiri. Akhirnya di sana pun malah menganggur. Transmigrasi membutuhkan keahlian lain selain menjadi buruh. Tetapi sayangnya, kami tak memiliki keahlian itu. Pulanglah kami dengan rasa malu yang teramat sangat. Kembali lagi suamiku berkarir sebagai buruh tani lepas, dan aku sebagai ART yang malang. Sekaligus sesekali ngasak mengais-ngais sisa padi yang tercecer.

Pusing sekali aku memikirkan kemiskinan ini. Kelima anakku bersekolah di SD dengan jarak yang berdekatan. Walaupun katanya sekolah gratis, tetapi nyatanya aku masih harus mengeluarkan banyak uang untuk beli buku, seragam, memberi uang saku, dan segala tetek bengek iuran yang menyebalkan. Jangankan untuk sekolah, memastikan kelima anakku dapat makan esok hari saja sudah beraaat diri ini. Memberi makan 5 orang anak tidaklah mudah. Katanya sih banyak anak banyak rejeki. Tetapi kenyataannya ini tetap saja berat. Mereka kuberi makan ala kadarnya. Yang penting ada nasi. Lauknya bisa apa saja, yang jelas tidak pernah lebih dari 1 macam. Hari ini tempe, besoknya tahu, besoknya lagi ikan asin, besoknya lagi hanya sayur, bahkan kadang hanya dengan kecap atau garam. Ini mengerikan, tetapi memang begitu adanya. Aku tidak pernah memikirkan sehat tidaknya apapun yang masuk ke dalam tubuh anak-anakku. Yang penting tidak ada rasa lapar berkepanjangan hari ini. Itu sudah lebih dari cukup, walaupun makannya maksimal hanya 2 kali sehari.

Dengan kualitas makanan yang jauh dari gizi itulah akhirnya anak-anakku tumbuh dengan tidak terlalu pintar. Sangat jarang sekali tubuhnya dimasuki oleh protein dan vitamin. Sudah jelas sekali masa depannya. Dia akan bekerja sepertiku; mengandalkan tenaga dan kemampuan bersih-bersih. Otaknya tak dipergunakan untuk berpikir yang ndakik-ndakik. Yang penting bisa bekerja dan bantu emak bapak. Aku resmi memiskinkan anakku sendiri. Rantai kemiskinan ini tidak akan pernah habis sampai anak kelimaku. Kupastikan semuanya akan sama saja seperti ini. Aku menyadari kepintaran tidak akan bisa dicapai tanpa asupan makanan yang mendukungnya berkembang. Kalau boleh diulang, aku mau punya 1 anak saja yang kupintarkan. Toh 4 yang lainnya aku yakin mereka juga tidak pernah mau lahir.

Tidak usah terlalu jauh menceramahi tentang cara mengasuh anak. Aku tidak punya waktu untuk itu. Pun aku tak tahu bagaimana caranya. Sejak dari buyut-buyutku pun sudah begitu. Ya beginilah cara mendidiknya. Sistemik. Bahkan mungkin sampai beberapa turunan di bawahku. Apakah keadaan ini murni kesalahanku? Tidak juga.

Kemiskinan juga menyudutkan anakku di posisi yang menyedihkan. Bau badan yang tidak sedap karena hidup berhimpitan di rumah kecil minim cahaya membuat mereka diejek oleh teman sebayanya. Rumah beralaskan tanah ini sepakat membuat hidup kami begitu kumuh. Citra bapak dan emaknya yang jelek juga menjadi bahan cibiran teman-temannya. Aku merasa berdosa telah menempatkan anak-anakku di posisi terjepit dan tidak punya pilihan.

Belenggu kemiskinan ini akhirnya ada jawabannya. Kudengar ada tetangga jauh yang berhasil di luar negeri menjadi TKW. Segera aku ikut-ikutan daftar. Saat itu TKW juga sedang nge-tren. Berangkatlah aku sendirian. Meninggalkan suamiku di rumah menggantikan peranku menjaga anak-anak. Kebetulan anak pertamaku perempuan, bisa disuruh-suruh untuk bersih-bersih rumah. Tak lama kemudian dia juga bisa bekerja. Merantau ke Bali menjadi apa saja yang bisa dikerjakan. 

Menjadi TKW di Malaysia ternyata tidak seindah yang dikatakan orang. Uang yang kudapat dari menjadi ART di sini tidak cukup untuk membuatku menabung. Tetap saja uang itu habis untuk keperluanku di sini. Sisanya kukirimkan untuk keluarga di rumah. Sial sekali! Menjadi TKW tetap tidak membuatku lepas dari kemiskinan tak tahu diri. Aku pulang ke rumah. Tambah asu lagi ketika aku mendapat fitnah katanya melacurkan diri di Malaysia. Suamiku yang miskin itupun pergi menceraikanku. Meninggalkanku dengan 5 orang anak tanpa sepeserpun. “Laknatullah sekali kau bajingan tidak tahu diuntung. Telah kurelakan semua masa remajaku untuk menikah denganmu. Telah kuberikan 5 orang anak dari spermamu yang nirprotein itu. Sudah untung anak itu berhasil keluar dengan hidup-hidup. Setiap jengkal tubuhku telah kupergunakan untuk menghidupi keluarga kecil yang terkutuk ini; membantumu menghidupi anak sebab kau tak pandai mencari uang. Sekarang malah kau tinggalkan 5 orang anak ini dengan segala beban hidupnya kepadaku. Seperti anak-anak ini tercipta bukan karena sumbangan spermamu saja.”

Keluarga yang sangat kacau ini adalah keluargaku sendiri. Sebuah mimpi buruk yang tidak buruk-buruk amat bagi orang-orang miskin. Orang-orang yang dimiskinkan itu sudah akrab dengan rantai permasalahan tak berujung. Selepas berduka atas hilangnya jiwa bajingan terkutuk itu akhirnya ku lanjutkan hidup dengan 5 orang anak yang telah tumbuh dewasa. Semuanya telah lulus SD. Tidak ada yang melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Alasannya jelas karena tidak ada duit. Yang kedua, jelas otak anakku tidak sampai untuk belajar lagi. Mereka lebih gemar pacaran dengan pasangan yang sama-sama miskin kemudian kumpul kebo dan tak sengaja hamil, daripada harus berjibaku dengan buku-buku yang mahal dan penuh dengan isme-isme itu. Benar saja, 3 dari 5 anakku hamil di luar nikah. Tidak dinikahi pula. Sebab perempuan macam ini sangat gampang untuk dibodohi. Tanggunganku bertambah lagi oleh 3 orang cucu tak jelas dari sperma yang mana.

Hahaha, keluargaku selalu lekat dengan stigma buruk sejak dalam pikiran. Cacian dan hinaan sudah menjadi makananku sehari-hari. Tidak ada yang lebih tebal dari telinga dan hatiku yang membatu.

Kemiskinan tidak pernah mau pergi dari pintu rumahku. Diiringi si mindring yang setiap hari mengetuknya. 

Editor : Retno Puspito dan Salwa Nida’ul 

82 Total Views 4 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *