Ekspresi

Anakku Bertanya “Bu, Ayah di mana?”

Ilustrasi : Muhammad Iqbal K.

Narasi : Salwa Nida’ul Mufidah

Bacaekon.com-Seharusnya dulu aku tidak menikahi laki-laki itu. Betapa bodohnya aku mau dibujuk hanya dengan rayu dari mulutnya yang manis tapi tak berguna bagi kelangsungan hidup keluarga kami. Ah! Tak sudi aku menganggapnya sebagai keluarga bahkan suamiku sendiri. Selalu pulang larut dalam keadaan mabuk, tanpa menafkahi, tapi menghamili. Bedebah! Hidup kami hanya bergantung pada bantuan dan aku mempekerjakan anak-anakku yang masih belia itu. Setidaknya masih ada cara instan untuk mendapatkan uang walau hanya dengan menjadi peminta-minta.

Di sini, aku masih sabar menghadapi suamiku yang sama sekali tak memiliki tanggung jawab itu. Jika kau bertanya mengapa aku tak pergi. Lantas, mau kemana aku pergi? Aku tak mau menjadi pengemis dan tinggal di jalanan. Walaupun rumah kami tak layak, setidaknya aku masih punya tempat untuk berlindung untukku dan anak-anakku. Aku hanya ingin menyingkirkan suamiku yang jarang bekerja itu. Tetapi sampai saat ini aku belum menemukan caranya.

Dulu aku bertemu dengannya saat dia masih menjadi sopir angkot di pinggiran kota ini, aku yang yatim piatu dan hanya bekerja sebagai pelayan di warung makan merasa senang ketika majikanku mengatakan dia tertarik padaku. Mungkin karena dulu aku kehilangan sosok figur seorang ayah dan bagiku dia bisa menggantikan rasa kehilangan itu. Aku juga tidak menyangka hidupku akan berubah menjadi seperti ini, jauh lebih miskin dari dugaanku. 

Pandemi membuat suamiku terkena PHK dan aku semenjak menikah dilarang untuk bekerja karena dia menjanjikan bisa memenuhi kebutuhanku. Dulu, kukira aku akan senang dimanja dengan tidak boleh bekerja walaupun dengan gaji yang tak seberapa. Sekarang, aku menyesalinya. Tidak bekerja ketika gaji suami tak seberapa hanya akan menyusahkan hidup di kemudian hari. Sampai saat ini. 

Kadang terbesit pikiran untuk menjadikan anak perempuanku sebagai pelacur di gang pinggiran kota ini. Tak perlu tempat yang bagus, hanya perlu memuaskan hasrat beberapa sopir-sopir jalanan yang tak bisa pulang menemui istrinya. Begitu mudah menjadikan nafsu lelaki sebagai ladang untuk mencari uang. Tapi, aku perlu setidaknya satu atau dua tahun lagi agar anak perempuanku menjadi ‘matang’.

Tuhan memberikanku dua anak perempuan yang parasnya lumayan, mungkin memang diciptakan untuk menjadi ‘pelayan’. Dan aku memiliki satu anak laki-laki juga satu bayi di dalam rahimku yang entah bagaimana nasibnya nanti. Aku harap dia tidak lahir, atau terlahir sebagai anak perempuan. Tuhan, sejujurnya aku sangat lelah. Ingin mati tapi bagaimana nasib anak-anakku nanti? Jika mati bersama, sungguh itu akan merepotkan banyak orang jika mayat kami ditemukan berserakan. Tidak. Itu tidak akan terjadi, aku hanya akan menyingkirkan suamiku itu. Bagaimanapun caranya.  

Menjelang siang anak-anakku akan pergi mengamen ke kota lalu pulang sebelum maghrib. Dan suamiku hanya akan tidur-tiduran di rumah dan terkadang keluar malam hanya untuk mabuk bersama teman-temannya di ujung gang. Tetapi, besok aku akan meminta anak-anakku untuk pergi mengamen di malam hari dan pulang pagi. 

“Ada apa bu?” Anakku menanyakan hal itu. “Tak, apa.” Jawabku singkat. Hari ini mereka bermain bersama teman-teman sebayanya di gang kecil ini. Betapa senangnya hatiku melihat mereka bermain seperti anak-anak pada umumnya. 

Sesuai janji, mereka pergi mengamen di malam hari. Sekarang hanya tersisa aku dan suamiku. Pasti sebentar lagi dia akan menggunakan kesempatan yang ‘baik’ itu. Sejurus kemudian dia langsung menarikku ke kamar. Melakukan hal yang sudah sepantasnya suami-istri lakukan. “Mengapa kau tak melawan?” tanyanya. Aku hanya tersenyum dan mengingat bahwa biasanya aku selalu menolak dan melawan. Lalu kujawab “karena aku mencintaimu.” Selepas hasrat birahinya terpenuhi, seperti biasa dia akan pergi mabuk bersama teman-temannya. “Berbahagialah.” Kataku dalam hati. Kali ini aku akan menunggunya pulang. 

Keesokan harinya anak-anakku pulang saat adzan subuh berkumandang. Buru-buru aku menyuruh mereka mandi dan meminta tidak mengamen untuk tiga hari kedepan. Lagi lagi mereka bertanya “Kenapa, Bu?” Aku tersenyum sambil menyiapkan mangkok sembari mengatakan “Istirahatlah, uang kita masih cukup untuk beberapa hari kedepan.” 

Pagi yang cerah ini menjadi hari yang membahagiakan untukku. Aku menyuruh anak-anakku duduk melingkar dan sarapan dengan nasi yang banyak dan sop daging yang enak. “Makanlah yang banyak, jangan sungkan untuk menambah nasi dan sop. Karena ibu memasak sop yang banyak.” Mereka mengangguk dan makan dengan lahap. 

“Dimana Ayah, Bu?” tanya anak laki-lakiku. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan berharap mereka tak menyadari apa yang telah mereka makan. Aku berhasil, mati memang menjadi pilihan terbaik.

Editor : Ikrar Aruming Wilujeng

202 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *