Amerika Sejahtera, Dolar Sejahtera, Rupiah Kok Melarat?

Amerika Sejahtera, Dolar Sejahtera, Rupiah Kok Melarat?

(sumber foto: www.pinterest.com)

Oleh, Arief Setya Negara

Bacaekon.com – Opini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat Rp.12.380,- diawal tahun. Namun angin segar bergeser menuju kenaikan nilai kurs dolar yang diawali dari momentum melonjaknya harga Indeks Bloomberg Dollar Spot, yaitu naik sebesar 0,1% (11:21 14/10). Sehingga mengakibatkan nilai kurs rupiah sempat mencapai titik terendahnya pada tahun 2014. Kemudian pada akhir tahun, Rabu (31/12/2014), rupiah ditutup di level Rp12.388,-. Berdasarkan Bloomberg Dollar Index (BDI) Jumat (2/1), rupiah dibuka melemah 0,37% yaitu Rp12.434,-. Sedangkan pada hari Sabtu (3/1), posisi dolar kembali naik sehingga rupiah melemah pada titik Rp.12.536,-.

Stabil dan membaiknya ekonomi AS ini berdampak pada perekonomian global. Tidak terkecuali Indonesia, hingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dapat mengakibatkan naiknya pembayaran utang negara. Terhitung dari April 2014 kemarin, utang luar negeri berjumlah US$ 276,6 miliar atau sekitar Rp 3.300 triliun. Utang luar negeri ini tumbuh sebesar 7,6 persen dibandingkan posisi utang luar negeri pada April tahun 2013 lalu.

Tentu pemerintah tidak tinggal diam. Upaya penurunan utang luar negeri tersebut dilihat dari biaya akomodasi subsidi (sektor migas, transportasi, dll) dalam negeri yang semakin dikurangi. Tidak hanya penyetabilan nilai rupiah, namun juga menurunkan jumlah utang luar negeri. Pemerintah melakukannya dengan cara mencabut alokasi dana subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada bulan November tahun lalu. Kemudian wacananya pemerintah juga akan menarik subsidi di sektor transportasi pada bulan Februari mendatang. Tidak hanya pembayaran utang luar negeri yang terkena dampak. Akan tetapi juga biaya ekspor, suku bunga bank, bahkan inflasi juga ikut naik sebagai dampak dari nilai jual dolar yang semakin naik dari bulan September tahun lalu.

Nilai dolar yang semakin naik, dapat dilihat dari jumlah angka pengangguran Amerika yang menurun 9000 orang dan Gross Domestic Product (GDP) yang naik 5%. Tidak hanya itu, daya beli masyarakat (AS) yang stabil juga menjadi penentu naiknya kurs dolar. Secara garis besar, kesejahteraan yang dapat diukur dari GDP yang terus meningkat menentukan besarnya jumlah nilai validitas dolar terhadap nilai kurs mata uang asing lainnya, termasuk rupiah. Tidak hanya Amerika, Indonesiapun dapat meningkatkan nilai rupiah melalui kesejahteraannya, yaitu meningkatkan indikator yang melalui; GDP-nya, pendapatan perkapita, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), jumlah pelajar yang lanjut sekolah dan tidak lupa dengan Product Domestic Regional Bruto (PDRB) yang merata.

947 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *