Aktivis Perempuan Angkat Bicara tentang Pemberitaan di Media Massa

Aktivis Perempuan Angkat Bicara tentang Pemberitaan di Media Massa

(sumber foto : twitter.com)

Oleh : Ulfa Fajria Ayub dan Dina Artika Andeswari

Bacaekon.com–Yogyakarta. Malam Solidaritas #JogjaIlangRoso Tribute to Our Sisters merupakan tanggapan dari kasus meninggalnya mahasiswi di kamar kosnya beberapa minggu lalu serta pembunuhan terhadap perempuan muda yang diduga mengalami kekerasan seksual. Berlangsung selama dua jam, acara ini diadakan pada Minggu malam lalu (10/5). Aksi yang diselenggarakan di depan Monumen Batik ini dihadiri oleh beberapa pihak khususnya aktivis-aktivis perempuan.

Solidaritas ini melibatkan beberapa jaringan di Yogyakarta seperti Jaringan Perempuan Yogyakarta, Jaringan Perempuan Pekerja Rumah Tangga DIY, Perempuan Indonesia Anti Korupsi Jogja, serta One Bilion Rising Jogja. Aksi ini tidak hanya diisi dengan serangkaian orasi, melainkan dilanjutkan dengan doa bersama membentuk lingkaran beserta penyalaan lilin tepat di tengah titik Kilometer Nol Yogyakarta.

Salah seorang aktivis JPY (Jaringan Perempuan Yogyakarta-red) Ika Ayu mengungkapkan, “Seperti yang kita ketahui, dua minggu terakhir telah hampir lima media dengan skala nasional yang membuat berita dengan menyebutkan nama korban, alamat, asal, universitas, serta yang lainnya. Bahkan banyak sekali opini di dalamnya.” Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat pers yang seharusnya berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik justru dengan gamblang telah melanggar beberapa pasal di dalamnya.

Hal senada juga diungkapkan Koordinator Nasional GUSDURian, Alissa Wahid yang menyampaikan kekecewaan serta keprihatinannya terkait cara menyajikan pemberitaan yang kurang mengindahkan Kode Etik Jurnalistik. “Menurut saya penting, yaitu bagaimana media massa tidak dibiarkan sesuka hati untuk menjadikan korban sebagai komoditas ekonomi,” tutur putri sulung dari mantan presiden ke-4 (Alm.) KH Abdurrahman Wahid. Alissa Wahid merasa perlu adanya tindak lanjut mengenai pelanggaran kode etik jurnalistik ini. “Harus ada undang-undang yang mengatur dan menindak, kalo tidak pasti akan terus terjadi seperti ini,” lanjutnya.

 

Reporter : Ulfa, Dina dan Arief

 

912 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *