AKSI SENI BUDAYA MENOLAK KRIMINALISASI SASTRAWAN

AKSI SENI BUDAYA MENOLAK KRIMINALISASI SASTRAWAN

Oleh: Restin Septiana

Bacaekon.com-Yogyakarta. Menjelang malam selepas shalat isya, Selasa (12/01), suasana Kota Yogyakarta tidak nampak mendung sebab langit cerah dan masih ada beberapa bintang bertabur. Memasuki area kampus timur Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, di sana telah dimulai Panggung Seni dan Budaya untuk menolak kriminalisasi sastrawan, Saut Situmorang.

Panggung itu menghadap ke arah barat sementara peserta duduk di depan panggung beralaskan spanduk dan tikar. Ada pula yang bernaung di bawah pohon dan di atas sepeda motornya yang berada tidak jauh dari panggung. Namun pandang mereka serentak ke arah panggung. Ada pembacaan puisi, penampilan musik, serta aksi stand up comedy, dan teater. Turut hadir pula Saut Situmorang di sana membawakan beberapa puisinya. Tepuk tangan saling bersaut melewati satu demi satu penampilan hingga hujan membuyarkan mereka sekitar pukul 23.00 WIB.

Meski masih ada yang berteduh di sekitaran panggung, acara ini dilaksanakan oleh beberapa aliansi, di antaranya adalah Gerakan Literasi Indonesia, Komunitas Baca Novel Pram, Komunitas Teater 42, UKM Musik UMY, Rumah Baca Komunitas, Pojok Baca, Sanggar Nusantara, Rakyat Sastra, Pojok Kantin, dan lainnya. Acara malam itu sebagai bentuk penolakan pembodohan sejarah sastra Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Yasir, salah satu penyelenggara yang juga menjadi pembawa acara malam itu. Ia lantas menuturkan bahwa aliansi itu dibentuk pada November 2014.

“Waktu itu (2014-red), aktivis Saut hanya tertuduh belum menjadi tersangka. Lalu kemudian 2015, akhirnya Saut dinyatakan sah sebagai tersangka oleh pengadilan Jakarta,” lanjut mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini menjelaskan salah satu alasan dilangsungkannya acara ini.

Perlawanan ini dimulai, menurutnya, juga karena menolak bentuk pembodohan secara konkret terhadap buku tentang 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia yang akan dijadikan kurikulum untuk anak sekolah. “Bayangkan saja yang namanya periodesasi ada yang namanya Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, dan sampai Angkatan 2000, cuma ada 33 tokoh. Pram gak masuk, Wiji Thukul gak masuk,” ungkapnya saat ditemui tim Bacaekon.com ketika guyuran hujan mulai reda di sebelah panggung.

Itulah sebabnya Saut Situmorang melawan. Menurut Muhammad Yasir, Saut memperjuangkan sastra Indonesia. Hingga kini Saut dikenakan status sebagai tersangka dengan dakwaan pencemaran nama baik dan kejahatan verbal di salah satu media sosial. “Yang patut dipersalahkan itu Fatin Hamama, Denny JA, dan tim 8-nya (yang menerbitkan buku itu),” ungkap Muhammad Yasir yang juga menjelaskan ada 14 komunitas dari empat kampus yang turut bergabung di aliansi tersebut.

Reporter: Restin, Ridho

784 Total Views 1 Views Today

Related Post

LAGU  BURUH TANI BERGEMA SAAT SEMATA

LAGU BURUH TANI BERGEMA SAAT SEMATA

  Oleh : Dewi Larasati (Foto:  Amelia Larasati) BACAEKON.COM-KAMPUS FE UII, (26/08) berlangsung kegiatan ospek…

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *