Opini

Agenda Memperolok Diri

Ilustrasi : Nalendra Ezra A.

Oleh : Gilang B. Putra*

Bacaekon.com-September, hampir seluruh universitas di Indonesia memasuki tahap ospek mahasiswa baru angkatan 2020. Kalau kata Mbak Najwa, maba tahun ini adalah maba yang berbeda dan teristimewa karena harus menghadapi kehidupan baru di tengah kondisi pandemi. Pun sama halnya dengan para kakak tingkat yang harus beradaptasi dengan metode baru dalam menyukseskan ospek. Apresiasi penuh saya haturkan kepada panitia yang berhasil melaksanakan ospek secara daring, terkhusus di Universitas Islam Indonesia (UII).

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekonomika beberapa hari lalu menerbitkan beberapa tulisan tentang ospek di UII yang ternyata namanya masih sama; Pesona Ta’aruf (PESTA). Ada satu tulisan opini yang menarik bagi saya (baca di sini), yang akhirnya memantik saya untuk ikut menyampaikan keresahan tentang lembaga dan regulasi pers. Tenang, tulisan ini bukan hasil penggiringan opini yang diunggah oleh salah satu penulis LPM Ekonomika, tetapi ini adalah keresahan pribadi saya. Untungnya saya juga tidak terprovokasi dengan opini yang dibuat, walaupun ada beberapa hal yang saya sepakati. Contohnya tentang jerih payah panitia yang selalu terlihat semangat dalam menyusun regulasi pers dalam PESTA UII setiap tahunnya. 

Yang lucu bagi saya adalah; kenapa regulasi tersebut selalu membuat gemas para anggota pers yang akhirnya akan ada lobi terhadap regulasi itu? Dan yang lebih membuat saya tertawa adalah perdebatan ini terjadi di setiap tahun. Bodohnya ketika saya berada dalam diskursus tersebut saya malah menikmati. Mungkin ini yang dinamakan proses belajar. Menarik walau sedikit menggelikan. Bagaimana bisa perdebatan yang substansinya sama harus terjadi setiap tahun? Apakah ternyata perdebatan ini memang tidak ada substansinya sehingga tidak ada pembelajaran untuk berubah?

Sedikit spill, hal yang paling sering diperdebatkan adalah jumlah anggota pers yang boleh masuk, perizinan berupa surat delegasi “resmi”, dan ada beberapa hal lucu lainnya. Seingat saya, ketika saya mencoba merekonstruksi kejadian, pihak panitia hanya memperbolehkan maksimal 3 orang reporter untuk meliput agenda PESTA UII. Kalau melebihi 3 orang katanya menyebabkan acara tidak kondusif dan panitia akan kewalahan dalam mengawasi para reporter. Padahal yang seharusnya memiliki tugas pengawas dan kontrol sosial adalah awak Pers Mahasiswa (Persma). 

Di sisi lain awak Persma akan menentang aturan itu karena 3 orang reporter dirasa terlalu sedikit dan tidak cukup untuk mencakup venue acara. Ya kalian paham lah luas kampus UII pusat kan juga sangat cukup untuk dijadikan tempat jogging dalam agenda diet kita. Tetapi saya sering bertanya kepada diri saya sendiri waktu itu; walaupun diberi keleluasaan, emang ada ya jumlah orangnya untuk meliput? Atau memang reporter ini siap menghasilkan output sesuai dengan jumlah orang yang meliput? Sepertinya tidak, karena saya juga sadar diri kalau saya bukan orang yang menganggap menulis itu mudah. Jin iprit saya terlalu kuat menghasut untuk memilih tidur daripada menulis hasil liputan PESTA UII. Itu adalah secuil keruwetan dan kontra revolusi antara anggota pers dan panitia PESTA UII yang “terverifikasi” oleh Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM). Gimana, bahasanya udah kek aktipis mahasiswa yang sering dianggap sebagai agent of change, belum? 

Namun, bagaimana sih sebenarnya Persma di mata UU Pers yang ada di negeri ini? Pada tulisan yang diunggah Remotivi, ternyata kebebasan Persma masih berada di ambang ketidakpastian. Walaupun dalam pendidikan dan proses pembuatan karya akan selalu mengacu pada kode etik jurnalistik, dan masuk dalam lingkaran kedua sebagai lembaga yang tidak terverifikasi dalam Dewan Pers, namun nyatanya, Persma adalah sasaran empuk untuk menjadi korban intimidasi dan represi oleh oknum tertentu. Bahkan sampai dibawa ke ranah kepolisian untuk dilaporkan. Dewan Pers atau Aliansi Jurnalis Independen (AJI) seringkali ikut turun untuk melakukan mediasi, namun seperti tidak dianggap karena kekuatan hukumnya tidak diatur dan tidak mengikat dalam UU Pers itu sendiri.

Oiya, balik lagi pada persoalan Persma dan panitia PESTA UII yang berada di bawah naungan kakak Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) dan DPM yang terhormat. Menurut saya, pergulatan ini akan terus bergulir bak Mc Gregor dan Khabib ketika tidak ada yang mau introspeksi dan berubah. Kenapa para kakak DPM dan LEM yang bertanggung jawab atas panitia PESTA tidak mencoba ngobrol intim tentang regulasi pers ini kepada Komisi B Stering Committee (SC) PESTA yang baru? Obrolan intim yang saya maksud ya cerita lah sedikit pengalaman kepada Komisi B yang baru, bahwasanya ada hasil lobi yang disepakati dengan awak pers. Bisa juga diceritakan kenapa perdebatan itu terjadi. Bukan masukan untuk melindungi kepentingannya sendiri. Eh, tetapi tidak masalah juga sih, karena saya percaya kalau kepentingan LEM dan DPM itu pasti demi kemaslahatan mahasiswa UII, termasuk awak pers itu sendiri. 

Pun pekerjaan rumah juga buat teman-teman Persma, karena yang perlu kalian lakukan itu mengenalkan dan mengedukasi para panitia yang mungkin masih awam tentang pers. Bisa juga dengan obrolan di warung kopi, gak perlu dengan debat ngotot sedikit esmosi dalam forum. Atau dengan sindir-menyindir terus terusan, toh baik panitia maupun Persma juga sama manusianya yang tidak bisa sempurna. Panitia seringkali khilaf dalam membuat regulasi pers karena insight yang diberikan oleh kakak LEM, DPM, atau panitia sebelumnya sedikit ra mashok. Awak pers pun juga sama, ketika regulasi yang dikehendaki disepakati, nyatanya juga masih sulit untuk melawan kemageran dirinya sendiri dalam menghasilkan output liputan.

Terakhir buat teman-teman DPM dan LEM terhormat yang mendapat predikat menjadi agent of change, moral force, dan iron stock. Mbok tolong pengalaman kalian yang sudah buanyak itu ditularkan kepada para panitia terkhusus pembuat regulasi pers. Kan kalian juga sudah paham betul bagaimana tentang Persma di UII. Saya juga yakin kalian tahu bahwa ini selalu menjadi persoalan tiap tahun sampai-sampai awak Persma merasa kalian jadi elit yang bikin regulasi seenak udel. Saya percaya kalian beda banget kok dengan Arteria Dahlan.

Nah, buat teman-teman pers, kita tahu kalau struktur lembaga di UII sangat berpihak pada kita dengan menjadikan LPM sebagai lembaga khusus. Tapi tolonglah artikan “khusus” itu menjadi sebuah tanggung jawab lebih untuk mengoptimalkan fungsi pers itu sendiri. Gak perlu merasa eksklusif sebagai Persma. Gak perlu juga merasa paling yoi dari lembaga yang lain. Wajib bagi kita untuk terus menjaga independensi dan memegang teguh kode etik jurnalistik. Dan jangan lupakan, LPM adalah tempat belajar bagi kita untuk menjalankan fungsi pers di kampus sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan yang utama adalah sebagai kontrol sosial bagi mahasiswa. 

Oleh karena itu, tetaplah berupaya untuk produktif menghasilkan produk yang bisa ditunggu-tunggu oleh mahasiswa dan menjadi referensi utama terkait isu kampus walaupun itu tidak mudah. Jadi, panitia PESTA UII, DPM, LEM, dan yang utama para maba miba bisa menikmati karya dari LPM tentang isu dalam ospek itu sendiri. Jadi biar mondar-mandir, wawancara sana-sini dengan narasumber yang sulit ditemui, dan transkrip yang menyebalkan itu terlihat gitu lho hasil nyatanya. Oiya maap, ini via daring ya, jadi lebih mudah lah ya seharusnya. 

Wahai teman-teman LEM, DPM, dan LPM aku tahu kalian itu saling sayang dan cinta. Tetapi saking sayang dan cintanya seringkali kalian terlihat bermusuhan kek Tom & Jerry. Tetaplah terus berusaha memberikan yang terbaik sesuai tugas dan fungsi kalian masing-masing!

*Penulis adalah demisioner Pemimpin Umum LPM Ekonomika periode 2019/2020 

Editor : Ikrar

 

139 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *