Aditya: Digitalkan Saja Semua Bisnis Konvensional

Aditya: Digitalkan Saja Semua Bisnis Konvensional

(sumber foto: http://www.lean-startup-coaching.com/)

Oleh: Ridho Haga Pratama

Bacaekon.com-Yogyakarta. Pernahkah anda berpikir tentang bagaimana seorang mahasiswa jurusan manajemen—yang lengkap wawasan menangani sistem—membangun sebuah bisnis tanpa pernah diajari kemampuan teknis untuk memproduksi barang? Aditya Arif Nugraha, Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Chapter Yogyakarta, punya jawaban menarik untuk pertanyaan tersebut.

Aditya memulai penjelasannya dari sebuah konsep bernama lean start-up. Lean start-up adalah metodologi pengembangan start-up yang menyatakan bahwa untuk memulai start-up, dibutuhkan  tiga fungsi yang minimal harus dimiliki oleh pendiri bisnis. Pertama adalah fungsi teknis, kedua adalah bisnis, dan terakhir fungsi desain. “Jadi, dengan tiga fungsi ini saja start-up baru bisa jalan. Gak bisa cuma satu saja, teknis misalnya, ini bakal jalan,” tutur Aditya ketika ditemui tim Ekonomika Januari 2015, di Djendelo Café Yogyakarta.

Menurut Aditya, seorang teknisi memang diberi keterampilan untuk menciptakan produk, namun mahasiswa bisnis memiliki modal wawasan lebih untuk berbisnis. Meskipun Aditya sendiri adalah jebolan jurusan Teknik Informatika, ia mengakui bahwa mereka yang datang dari jurusan bisnis memiliki kepekaan yang lebih hebat dalam melihat peluang bisnis.

Aditya kemudian memberi gambaran, “Bagi orang IT, membuat program ini-itu sangat gampang. Tapi mereka nggak tahu kalau di luar sana ada jutaan manusia yang bilang itu sulit. Nah, orang bisnis biasanya bakal melihat program ini seperti ‘wah, susah nih, coba kalau aku buat lebih sistematis pasti banyak orang yang menggunakan,’ cara bikinnya itu baru kita cari orang teknis.”

Contoh konkret dari start-up ini adalah makandiantar.com. Aditya menganalisa bisnis portal itu bermula dari bisnis kuliner rumah  makan konvensional sebelum akhirnya muncul kesadaran bahwa kompetisi akan semakin sulit jika pelayananpun dilakukan dengan cara konvensional (menunggu orang untuk datang dan duduk memesan makanan). Di sinilah sense of business terlihat, Jogja kini mulai macet, yang mampu melihat ini sebagai peluang akan mulai memikirkan cara mempermudah pelanggan memperoleh makanannya tanpa perlu menghadapi macet. Maka, solusi yang ditemukan adalah konsep delivery online yang mengizinkan pelanggan memesan makanan dari berbagai rumah makan hanya dengan mengunjungi satu portal. “Nah, orang teknis perannya memastikan ini programnya dapat diinstal di perangkat yang mobile,” tambah Aditya.

Akhirnya, menurut Aditya, bisnis adalah hal mudah, “digitalkan saja semua konvensional yang ada sekarang.” Aditya juga membagi idenya untuk calon-calon pengusaha untuk coba membuka bisnis supermarket online yang menjual bahan-bahan dapur yang seringkali harus diperoleh dengan berkunjung ke pasar. “Itu ide bisnis online yang saya belum lihat ada, yang ingin mencoba monggo ditangkap,” tawar Aditya.

Reporter: Ageng Ramadhanta, Ridho Haga Pratama

1099 Total Views 1 Views Today

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *