Film

A Copy of My Mind: Jakarta dalam Sebuah Pikiran

Foto: iffr.com

Oleh : Ikrar Aruming Wilujeng

Sutradara : Joko Anwar

Pemeran : Tara Basro

  Chicco Jerikho

  Maera Panigoro

  Paul Agusta

  Ario Bayu

Tanggal rilis : 3 September 2015 (di Venice, Itali) 11 Februari 2016 (di Indonesia)

Ada banyak ragam dan motif pencurian di dunia ini. Salah satu pencurian yang terstruktur dan mengakar adalah pencurian karya, pembajakan film salah satunya. Kepingan kaset diproduksi ulang dan dijual terang-terangan di banyak toko, seakan itu adalah tindakan yang sah. Joko Anwar, sutradara yang nyaring dalam melawan pembajakan film, menjadikan tindakan tersebut sebagai latar dari film yang digarapnya, A Copy of My Mind. 

Dibintangi oleh Tara Basro sebagai Sari, dan Chicco Jerikho sebagai Alek. Sari bekerja sebagai pegawai salon. Sedangkan Alek bekerja sebagai translator film bajakan. Keduanya adalah kaum mayoritas di Jakarta; buruh kelas bawah dan tinggal di kamar kos dengan cahaya matahari yang minim.

Sari dan Alek sama-sama penggemar film. Bedanya Sari adalah konsumen film bajakan, sedangkan Alek adalah produsen film bajakan. Keduanya dipertemukan dalam latar ini. Keadaan ekonomi yang sulit memaksa Sari menuntaskan hasrat sukanya pada film melalui konsumsi film bajakan. Alek juga begitu, sudah terlanjur basah ya mandi aja sekalian.

Keduanya menyehari dengan rutinitas sebagai buruh kelas bawah. Film ini tidak menawarkan aksi pemeran yang aneh-aneh layaknya film layar lebar. Pun tidak banyak konflik yang terjadi. Sepertinya, kamu juga akan mudah menebak bagaimana alurnya. Film ini terlalu jujur mengupas sisi hitam Jakarta dalam landscape politik.

Joko Anwar menitik beratkan pada fenomena politik yang kotor. Sesuai dengan judulnya, A Copy of My Mind, Joko Anwar mengkatarsiskan pikirannya mengenai Jakarta dalam film ini. Jakarta yang sibuk, Jakarta yang berambisi, dan Jakarta yang penuh kebohongan.

Dalam suasana Pemilihan Umum yang riuh akan pro dan kontra selalu ada yang dibohongi dan dikorbankan. Demikian bisa terjadi karena ada sesuatu yang dicari. Ada sesuatu yang diinginkan. Hingga hukuman penjara itu hanya jadi formalitas; untuk memuaskan publik bahwa yang bersalah harus dihukum. Padahal yang dihukum juga lagi leyeh-leyeh di dalam penjara dengan fasilitas layaknya hotel. Orang yang dihukum itulah yang dikorbankan. Dikorbankan untuk menutupi kebejatan yang lainnya, lebih tepatnya.

Kasus seperti itu sudah lumrah ditemui. Yang paling baru adalah dugaan sel mewah milik Setya Novanto di Lapas Sukamiskin. Setya Novanto adalah pejabat yang dinilai melakukan tindak korupsi E-KTP. Yang dihukum hanya beliau. Yakin yang menerima uang dan pantas dihukum hanya beliau? Salah satu nama yang diduga menerima aliran uang malah jadi ketua DPR RI.

Agenda politik memang tidak bisa berjalan mulus dengan sendirinya. Perlu ada stimulus dan penunjang agar apa yang direncanakan dapat terwujud. Para pemodal besar yang serakah membutuhkan dukungan dari para pembuat kebijakan. Makanya tindakan suap menyuap masih subur di sini. Asal ada duit, semua pasti lancar.

Kepicikan untuk menutupi bangkai tidak dapat dilakukan sendirian. Banyak orang yang terlibat dan masing-masing memiliki peran. Siapapun yang mencium bangkai harus sesegera mungkin dihempaskan. Di tanah kami nyawa tak semahal proyek.

Kerangka berpikir dari kasus di atas ada di film A Copy of My Mind. Disampaikan melalui alur yang sederhana. Tara Basro dan Chicco Jerikho memainkan peran dengan sangat natural. Ditambah dengan suara yang jernih dan penataan suara yang ciamik. Makanya film ini berhasil meraih Piala Citra untuk Penata Suara Terbaik pada tahun 2015, dan Piala Maya untuk Tata Suara Terpilih pada tahun 2016.

Selain dua penghargaan dalam hal suara, Joko Anwar juga meraih Piala Citra untuk Sutradara Terbaik pada tahun 2015. Kejeniusannya dalam menuangkan pikirannya dalam film yang sederhana ini patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Dan masih banyak penghargaan bergengsi lain.

A Copy of My Mind merupakan salah satu film terjujur. Berangkat dari bisnis pembajakan film, sampai diakhiri dengan isu politik yang sebenarnya sudah menjadi rahasia publik. Segalanya nampak dinormalisasi. Sama seperti kehidupan kita sehari-hari.

Editor: Azizah

168 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *