30 Paspor 30 Cerita

30 Paspor 30 Cerita

Gambar: http://selalumwmencobahal2baru.blogspot.com/

Oleh: Immellita Budiarti

 

Judul                     : 30 paspor di kelas sang professor

Jenis                      : Non-fiksi

Penyusun              : J.S. Khairen

Penerbit                : Noura books

Cetakan               : I, Oktober 2014

Tebal buku          : 323 halaman

Bacaekon.com—Rekomendasi. Namanya Prof. Rhenal Kasali,Ph.D. , seorang guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dosen mata kuliah Pemasaran Internasional (pemintal) yang memberi tugas kepada 30 mahasiswanya untuk “nyasar” di negeri orang dan hanya memperbolehkan satu mahasiswa untuk satu negara, ataupun apabila terpaksa dua, para mahasiswa tidak boleh berada di kota yang sama serta harus brangkat dalam waktu 1,5 bulan atau sebelum uts.

Metode pembelajaran ini digunakan untuk menyadarkan mahasiswanya, bahwa kuliah tidak hanya sekedar duduk manis di bangku kuliah dan mendengarkan dosen. Para mahasiswa butuh metode yang membuat para mahasiswa keluar dari zona nyaman, tertantang, mampu menghadapi setiap kesulitan yang mereka hadapi, dan menjadi driver dalam diri mereka, bukan lagi passenger.

Bepergian ke tempat baru, dengan informasi, uang, waktu, dan pengetahuan terbatas sessungguhnya bisa mengubah nasib manusia. Dan keterbatasan itu belum tentu membuat kita tersudut  tanpa kemampuan keluar (dari kesulitan) sama sekali. Namun sayang, masih banyak orang -orang Indonesia yang takut menjelajahi dunia baru,takut gagal, takut kesasar, dan menakutkan banyak hal yang seharusnya tidak perlu ditakutkan, seolah terperangkap dalam ruang nyaman yang telah diciptakan jiwa ke jiwa. Seperti pepatah Columbus: Kalo saya tak pernah mau kesasar, kalian tidak akan pernah menemukan jalan baru.

Perjalanan para mahasiswa dimulai ketika memasuki kelas pertama mata kuliah pemintal, ketika dosen menanyakan paspor masing-masing mahasiswa, dan ketika hanya 5% saja mahasiswanya yang memiliki paspor. Seketika, dosen memerintahkan membuat paspor bagi yang belum memiliki dalam waktu yang telah ditentukan.

Disinilah, mulai banyak terlihat masalah yang dihadapi mahasiswa,  ada yang tidak punya biaya untuk membuat paspor dan ada yang harus bolak-balik untuk membuat paspor. Begitu pula dalam pembuatan visa untuk dapat masuk ke Negara yang mereka tuju, ada yang menjelang seminggu keberangkatan namun visa belum jadi, ada yang sudah berminggu-minggu mengurus belum juga jadi seperti Saggaf akibat paras timur tengahnya karena pemberitaan pengeboman di Boston. Nadhila yang nama di tiket dan paspor yang berbeda satu huruf.

Kesulitan-kesulitan lain juga banyak mereka temui ketika berada di negara-negara tujuan mereka. Aland yang merasa diperas oleh temannya sendiri di India, Yudhistira yang terkena jetlag dan terpaksa menunda perjalanannya, kesulitan mencari makanan halal, kesulitan berbahasa lokal karena orang lokal jarang berbahasa inggris, salah rute bis, salah jalan, salah membaca peta, kehabisan uang, dan masih banyak lagi.

Setiap kesulitan yang para mahasiswa hadapi, mereka diminta untuk menyeleseikan masalah mereka sendiri, tanpa memberikan bantuan terlebih dahulu, seperti yang di katakana oleh Prof. Rhenal Kasali: jangan buru-buru mengambil kesulitan yang dihadapi anak-anak. Biarkan mereka belajar mengatasinya sesuai kemmpuan mereka.

Selain mendapatkan kesulitan, para mahasiswa tentu mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Berinteraksi dengan orang lokal, melihat menara Eiffel secara nyata, bertemu SNSD secara langsung, melihat megahnya gedung gedung di Dubai, merasakan suhu yang berbeda drastis dengan Indonesia, menemukan negara yang lebih buruk dari Indonesia, mengetahui sejarah suatu negara secara langsung, dan masih banyak lagi.

Di dunia ini, memang tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang perlu terlalu di takutkan, jika kita memiliki suatu keinginan, keyakinanlah yang membawa kita kepada kenyataan. Akan selalu ada jalan untuk setiap mimpi kita. If you really want to do something, you will find a way. If you don’t, you will find an excuse – Jim Rohn.

1199 Total Views 1 Views Today

Related Post

Letter To Sweet Coffee

Letter To Sweet Coffee

Oleh: A. Gunawan Judul               : Surat Untuk Kopi Manis (Letter To Sweet Coffee) Penulis             :…

2 Comments

  • tidak ada yang istimewa pada buku ini kecuali nama Rhenald Kasali. Buku ini membosankan, terlalu banyak cerita obyek-obyek wisata dibanding kesan dan pengalaman penulis-penulisnya selama berada di mancanegara

    Reply
  • Keren! Buku ini mengajarkan saya untuk berpikir lebih luas, bermimpi lebih tinggi, dan bertindak lebih berani. Satu cerita yang membuat saya tidak habis pikir, karena gadis ini sangat nekat. Yaitu cerita perjalanan seorang gadis berjilbab ke Birma, yang mendorong saya ingin segera berpetualang!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *